Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha

Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.

  • NU ONLINE
  • SAH, 5 PEJABAT BAWASLU TRENGGALEK DILANTIK

    TRENGGALEK–  Sebanyak 5 orang anggota Badan Pengawas Pemilu  Kabupaten Trenggalek hari ini telah sah dan secara resmi dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Bawaslu RI Abhan, di Birawa Assembly Hall Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (15/08/2018).

    Pelantikan dilakukan bersama diseluruh Indonesia sejumlah 1.914 orang. Usai pelantikan dan pengambilan sumpah dilakukan pengarahan dalam rangka Peningkatan Kapasitas Aparatur Bawaslu Kabupaten/Kota  se Indonesia.

    Menurut informasi yang didapatkan dari website Bawaslu RI, pelantikan kali ini yang menyeluruh mendapatkan rekor dari MURI sebagai pelantikan Pejabat Publik Terbanyak.

    Pada kesempatan ini, Bawaslu Kabupaten Trenggalek yang terlantik sebanyak 5 orang. Lima orang pejabat pengawas pemilu ini diantaranya adalah (berdiri dari kiri):
    1. Prayogi
    2. M. Triyono Al Fata
    3. Rusman Nuryadin, S.Pd.I
    4. Farid Wadjdi, SH.
    5. Ahmad Rokhani, S.Pi.

    MENGAPA, WAKIL RAKYAT DIPEREBUTKAN ? I amruloh saja




    Bukankah manusia yang diciptakan di Bumi ini adalah sebagai Khalifah ? khalifah adalah pemimpin. Adakah yang tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang pemimpin ? pastilah setiap orang merasa begitu.

    Tidaklah memerlukan alasan banyak untuk memberikan suatu konsep pemimpin. Pemimpin disini dijelaskan sesuatu yang bebas untuk menguasai hak atas pribadi seseorang tau kelompok manusia. Arti dari kuasa seseorang untuk meguasai ( dalam arti mengendalikan) diri adalah paling tidak, setiap manusia mempunyai kendali untuk bebas dan merdeka, tanpa ada pengaruh yang menjadikannya bimbang atas kemerdekaannya, inilah pemimpin bagi dirinya. Sedangkan bebas menguasai (mengendalikan) suatu kelompok orang adalah suatu trust (kepercayaan dengan cara yakin) orang lain kepada diri seseorang, yang menyerahkan kemerdekaannya (tanpa melampaui kebebasan individu) untuk orang yang dirasa mampu dan akan menciptakan kesejahteraan sosial, maka konsep inilah yang diartikan dengan pemimpin secara umum.

    Ada alasan mengapa banyak rang yang ingin menjadi pemimpin sosial, pemimpin di negaranya, di propinsi hingga di Desanya.

    Pertama, alasan untuk merubah suatu kebiasaan dan budaya yang keliru, untuk membenarkan harus masuk kedalam sistem, ikut dalam perpolitikan, mencalonkan menjadi pemimpin. Nah, konsep pertama ini sangat ideal, maka tak sedikit para orang yang merasa dirinya mamapu, segera memantaskan diri untuk maju menjadi pemimpin. Maka, ketika menjadi pemimpin, janji janji politiknya untuk merubah kearah kemajuan, kebaikan, akan mudah untuk dilaksanakan, tanpa haus terkendala birokrasi yng terbelit belit.

    Kedua, alasan untuk mendapatkan penghargaan diri, pernyataan hormat orang lain kepada dirinya. Yang kedua ini sudah menyimpang dari idealisme kepemimpinan. Bukan rasionalitas sosial yang dipakai namun lebih pada keegoisan pribadi dalam mendapatkan hasrat berkuasa, dipuja.

    Di negara kita, untuk menjadi pemimpin sosial harus melalui suatu perjuangan yang panjang, tidak gampang, dan penuh dengan pengorbanan.untuk mendapatkan suatu pemimpin, sebenarnya ada dua dasar, yatu pemimpin itu dilahirkan, atau diciptakan. Pemimpin yang dilairkan, pada hakikatnya sudah mempunyai darah seorang pemimpin, keturunan raja dan sebagainya, maka akan secara otomatis akan menjadi pemimpin didaerahnya. Untuk kategori pemimpin yang diciptakan, istilahnya pemimpin ini tidak mempunyai keturunan raja atau sebutan lainnya, melainkan dia di persiapkan dengan cara dipromosikan karena mempunyai kemampuan untuk memimpin yang baik.

    Nah, ada suatu kesalahan yang turut menyertai proses didapatkannya pemimpin, yaitu orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk mempimpin, karena mempunyai hasrat untuk berkuasa, maka orang yang tidak mampu ini di atur sedemikian rupa, diwacanakan untuk menjadi seorang pemimpin terbaik, akhirnya setelah mampu menarik hati rakyat, dia melupakan janji janji manisnya, malah memperkaya diri, memperkaya sekelilingnya, dan melupakan masyarakat yang seharusnya dibantu, diperhatikan. Makanya ada banyak pemimpin yang korupsi.

    Sekarang mari kita ngomongin masalah pilkada, Pilihan umum di Indonesia.
    Dalam menuju kursi kepala daerah 2018 dan Presiden 2019, ada banyak dan mendadak tokoh bermunculan. Ada tokoh lama, ada tokoh yang sebenarnya sudah lama tapi baru muncul, ada yang sebenarnya bukan tokoh tapi mengaku dirinya tokoh. Tokoh disini diartikan bahwa dia adalah calon pemimpin didaerahnya, atau di Negara Indonesia.

    Dari berbagai latar kehidupn dan pendidikan, tokoh tokoh yang bermunculan itu sedang ramainya memasang gambar untuk mempromosikan wajahnya agar terkenal, moncer.

    Waow, begitu semangatnya mereka yang ingin menjadi wakil rakyat. sungguh itu merupakan niatan yang begitu arif bijakasana. Ada beberapa hal mengapa mereka rela mengelurakan uang yang tak sedikit hanya untuk satu kursi jabatan wakil rakyat ? berikut sekedar asumsi ulasannya:

    1. Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, pada tingkat tertentu, seseorang memerluan penghargaan atas capaian dirinya. kebutuhan Penghargaan atas diri ini dicapai setelah orang tersebut melewati tahapan berikut yaitu; sukses menapaki kebutuhan fisiologis, tuntas dalam kebutuhan mendapat rasa aman, dan mendapatkan kasih sayang. Nah, para calon yang sedang giat berpromosi, bisa jadi dikategorikan sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan diri. Menjadi seorang pejabat publik adalah satu impian besar untuk selalu dekat dengan masyarakat, membela masyarakat, dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan (masyarakat mustad'afin). dengan dibantunya masyarakat, ada harapan besar yaitu, upah, penghargaan, ucapan selamat, rasa terimakasih, rasa balas budi dan rasa penaklukan dan ketertundukan terhadap wakil rakyat tersebut.nah, disitulah rasa menjadi orang besar akan muncul.

    2. Sarana mendapatkan sesuatu yang lebih, setidaknya incaran menjadi menteri, direktur PT apa begitu, mendapatkan proyek, tetap tercapai.

    Sebenarnya, pola pola promosi sah sah saja dilakukan, oleh siapapun. Namun yang perlu diketahui bahwa, kalau merasa tidak mampu, jangan memaksakan kehendak. kalau tidak punya rasa niat ketulusan menjadi wakil rakyat, hentikan. katakan saja saat menjelang pilpres 2019. ada banyak calon. sebenarnya, mereka yang promosi, mempunyai suara yang lumayan untuk sekedar "ndompleng" (gabung jadi satu) kesalah satu calon terkuat. saat ini gonjang-ganjingnya, bakal yang terjadi adalah hanya ada dua Capres terkuat. yang lain hanya sekedar dompleng. nah, posisi posisi dompleng inilah yang bisa jadi banyak dicari, sebab, untuk bersatu, bersinergi dalam hal koalisi, ada pemufakatan yang berujung pada kerjasama. disitulah kursi kursi menjadi menteri, kepala bidang, direktur PT, dan apapun itu ditawarkan, bisa jadi timbul perekrutan tanpa ada seleksi kemampuan.

    Buat apa susah susah menjadi wakil rakyat yang pada ujungnya menipu ?

    Kalau : Transisi Pemimpin Selalu (dibuat) Gaduh I amruloh saja



    KALAU

    Kalau bisa bersama dan damai, mengapa selalu ramai dan terus memancing kerusuhan ?
    Jika hidup bersama lebih indah dengan cara gotong royong, kenapa harus sendiri-sendiri dan terus saling menuduh dan mengklaim kebenaran ?
    Jikalau memang kemakmuran rakyat harus digadaikan dengan darah kemanusiaan, mengapa tidak sekalian memberangus suatu kaum yang berbeda ?

    Berorganisasi  adalah tempatnya orang yang berbeda, anggapannya harus berikhtiar dalam keberagaman menuju teguhnya kesatuan. Tetapi mengapa justru berorganisasi sebagai tempat memproduksi fanatisme yang akut ? Mengapa berorganisasi justru menimbulkan stigma pengkotak-kotakan golongan ?

    Apakah Negara Kesatuan belum menjadikan nilai nilai dalam bernegara dan bermasyarakat ?
    Apakah sila-sila yang telah terstruktur rapi dalam Pancasila kurang begitu kokoh dan Tegak dalam menyangga Indonesia ?

    Bukankah Indonesia pernah terjajah dalam waktu yang sangat lama ? dan Pilar UUD 45 telah jelas, kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Maka akan akah kemerdekaan yang telah diraih ini akan kembali hancur, terjajah oleh sistem kapitalisme, terjajah oleh Wacana Perpecahan, kembali terjajah oleh fanatisme kedaerahan ??
    Akankah Bhineka Tunggal ika sudah dilupakan arti dan hakikatnya ? apakah tiada lagi kesatuan dalam keberagaman ?

    Kita mengetahui bahwa, setiap kali adanya transisi suatu rezim, selalu (dibuat) gaduh, akan banyak sekali perpecahan umat, pecahnya golongan yang awalnya sangat nihil perbedaan, semua ditimbulkan dari ulah dan nafsu-nafsu untuk menjadi pemimpin, hingga lupa diri bahwa kemauannya ternyata telah menggasak sendi kemanusiaan dalam bingkai keberagaman, hingga nafsu menjadi pemimpin, berubah menjadi nafsu menjadi penguasa, dan itu merupakan taghut yang nyata.

    Yang "itu" bilang anda salah, yang "ini" bilang kamu benar tapi dibalik layar menyuarakan kebencian karena tidak sepaham dengannya, dan yang lain diam, namun selalu mengujar kesalahan orang dimedia sosial.

    Sungguh, bapak ibu, adik adik dan mas mbak harus ingat, kalau kebiasaan dalam transisi rezim selalu gaduh lantas kenapa kita diam ? Apakah kejadian itu akan menjadi pola yang sama setiap ada transisi kepemimpinan ? dipermainkan oleh isu kekuasaan, dibuatlah rangkaian kekeliruan dari wacana oleh segelintir politikus, agen agen rahasia dan bisa jadi para pengamat hingga tim survey.

    Mari dimulai dari diri kita. Mari menanamkan kecintaan kita pada sesama. Bahwa bernegara adalah suatu yang damai bila saling bergotong-royong. Jangan menuduh, stop menjelekkan orang lain, stop mengujar kesalahan orang lain, stop membicarakan kesalahan orang lain. Itu semua adalah memproduksi sampah.


    Biarlah panglima bekerja untuk keadilan. Biarkan pemerintah bekerja dalam menunaikan tugasnya. Biarlah demokrasi melaksanakan tugasnya tanpa harus ada titipan dan pemberian label. Dan biarkan rakyat memberikan nilai atas kinerja wakilnya, tanpa adanya pembredelan pada yang mengkritiknya. itu semua adalah bentuk rasa cinta.

    Prof Kacung Marijan : Pilpres 2024 akan lebih menarik


    Untuk maju dalam pilihan Presiden periode kedua ,seorang Presiden memang sudah bisa dipastikan akan memenangi pertarungan. Hal ini seperti yang terjadi di eranya bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) tahun 2009. Sebagai seorang petahana, SBY sangat mudah mengalahkan pak Jusuf Kalla (JK) dan mampu dengan mudah memenangi pertarungan kursi Presiden.

    Senada dengan sejarah tahun 2009, pemilihan Presiden tahun 2019 pun seolah olah tidak menjadi suatu halangan yang berarti bagi Jokowi untuk menang. Terlepas dari lawan politiknya yaitu Prabowo, diperkirakan akan menjadi lawan satu-satunya, Jokowi mempunyai daya pilih masyarakat (elektabilitas) yang relatif tinggi dibanding dengan Prabowo.

    Namun, prediksi Lembaga survei tidak bisa memberikan kepastian yang pasti. Buktinya pilkada DKI, Lembaga survei banyak yang salah dalam memberikan data kemenangan Basuki Tjahaya Kusuma atau Ahok. Ternyata Anies Baswedan memenangi medan pertempuran.

    Menurut Profesor Kacung Marijan dalam diskusi bersama Kahmi Trenggalek dan Tulungagung di Kediaman sesepuh HMI Bapak H. Laitupa, pertarungan Presiden yang akan menarik adalah di tahun 2024. “ bisa dipastikan, yang menjadi gubernur di jawa timur, jawa barat dan jawa tengah, akan mampu memberikan warna di Tahun 2024 pilihan Presiden”, jelas kacung.

    Kemenarikan pemilihan Presiden bisa dilihat dari seberapa banyak kontestannya. Maka, ditahun 2024 akan menjadi jawaban, banyak kompetisi calon yang beragam, dan produktif.

    Apakah ditahun 2019 tidak menarik ? tetap menarik. Akan tetapi ini bicara soal Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menasional dan mumpuni dalam menyelesaikan perkara umat.

    Back To Top