PEMBELOT
KERAJAAN, RA KUTI
Menuju
geger paregreg #6
Sebuah
dongeng
|
A
|
ngin awal
tahun menghembuskan kehangantan di bumi Majapahit. Tahun baru, prabu Hayam
wuruk mempunyai semangat baru sebagai raja Majapahit. Semangat yang ditimbulkan
dari keadaan Majapahit yang ditengarahi telah dimasuki oleh para
pembelot-pembelot kerajaan. Semangat tersebut untuk menangkap dan menumpas para
gerombolan pembelot yang tidak patuh
terhadap Raja.
Pada awal
tahun 2018, tensi politik pra pemilihan Raja Pengganti Hayam Wuruk semakin
memanas. Pasalnya, dalam permainan politik, yang pasti dalam politik adalah
ketidakpastian itu sendiri. Banyak partai partai yang menarik, mengulur
dukungan terhadap calon Raja. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakpastian
yang menjadi dilema oleh adanya lawan politik yang menggunakan siasat dewa
mabuk. Siasat dewa mabuk menjadikan musuh menjadi ketakutan, menangis hingga
meratap karena si pemabuk telah membabi buta menyerang para calon Raja.
Orang
yang sangat kentara tangisnya adalah adipati Wikramawardana. Dia hampir
terbunuh oleh amukan pemabuk itu yang menyerang dipagi buta saat Adipati
Wikramawardana sedang perjalanan menuju kadipaten. Di tengah perjalanan,
sejumlah pemberontak diam diam memasuki kendaraan beliau yang berjalan
perlahan. Mereka mengancam sang Adipati untuk dibunuh dengan mengacungkan
pedang dilehernya. Pedang tersebut mengancam agar sekiranya Wikramawardana
mundur dari pencalonan, jika tidak, akan ada musibah besar yang akan
menimpanya, termasuk nyawanya terancam.
Mendengar
ancaman dari pemberontak yang memakai tutup muka hitam itu, wikramawardana
gugup dan meminta pertolongan. Belum selesai berteriak, pemberontak turun dari
kendaraan, menghilang. Sekiranya sudah cukup untuk memberikan intimidasi dan
ancaman jahat.
Disisi
lain, masa pencalonan Raja akan segera ditutup minggu-minggu ini. Terlihat
dimuka umum belum ada yang mendatangi kantor KUPR ( Kantor Umum Pemilihan Raja)
Majapahit. Masyarakat yang sedikit suka terhadap politik mulai menyimpulkan
diawal, “ra Solid” (artinya : tidak solid). Baik partai pengusung maupun calon
terlihat tidak adanya kesepahaman, tidak tercipta kesepakatan, dan tidak
berujung pada keterpaduan.
Tumenggung
Martoloyo, sebagai Jenderal barisan Gerakan Majapahit Bersatu (GMB) tertawa
terbahak-bahak. Beliau sangat kegirangan melihat poros lawan mulai sengkarut dan
mulai menemui titik kemandegan. Diam diam ternyata Martoloyo lah yang menyuruh
dan mengatur intimidasi yang dilakukan oleh Pembelot terhadap Wikramawardana.
Martoloyo mempunyai abdi yang taat dan rela mati demi “Tuan”nya. Dia adalah Ra
Kuti. Seorang patih yang gagah dan mempunyai bawahan yang solid. Jadi sangat
mudah bila mendapatkan tugas hanya sekedar mengintimidasi, membuat perlawanan
dan menciptakan kerusuhan. Dengan adanya perlawanan yang dilakukan pembelot,
martoloyo cepat mengambil kuda-kuda mengambil sikap dan arah. Mendengar para
lawan sedang sekarat, martoloyo sigap mengantarkan calonnya menuju tahta
pencalonan, tanpa halangan yang berarti.
Mendengar
kabar buruk yang telah menimpa Wikrmawardana, Gajah Mada menemuhi Putri Raden
Wijaya mebicarakan Pada akhirnya Adipati Wikramawardana tidak mampu menampik
serangan yang dilakukan oleh pembelot Ra Kuti. Pada akhirnya Wikramawardana
berinisiatif sendiri untuk mengundurkan diri dari pencalonan calon Wakil Raja
Majapahit, dan gagal mendampingi Gajah Mada.

0 Comment for "PEMBELOT KERAJAAN, RA KUTI"